Israel Serang Kapal Kemanusiaan
Tulisan Santi Sehari Sebelum Mavi Marmara
Diserang Israel
Jakarta, Santi
Soekanto
adalah salah
satu dari 12
WNI di kapal
Mavi Marmara
yang diserbu
Israel.
Sebelum penyerbuan itu, Santi sempat
mengirimkan surat elektronik yang sangat
menyentuh.
Surat ini bertajuk 'Gaza Tidak
Membutuhkanmu!' yang dikirim pada
Minggu 30 Mei 2010, atau sehari sebelum
serangan Israel. Surat dibuat mantan
jurnalis The Jakarta Post ini di atas kapal
Mavi Marmara saat masih berada di Laut
Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
Saat itu, aktivis Sahabat Al Aqsha dan
anggota tim Freedom Flotilla lain tengah
menunggu kedatangan tim lain untuk nanti
sama-sama berangkat ke Gaza. Namun
kabar akan serangan Israel sudah beredar.
"Kami masih menanti, masih tidak pasti,
sementara berita berbagai ancaman Israel
berseliweran," kata Santi dalam
pembukaan suratnya.
Ibu rumah tangga ini berbagi
pengalamannya bertemu dengan ratusan
orang dengan berbagai latar belakang.
Masing-masing dengan gayanya sendiri.
Ada anak buah politisi Inggris yang
petantang-petenteng, sampai aktivis
perempuan muslimah yang pendiam,
namun cekatan untuk memastikan semua
rombongan bisa makan tepat waktu.
Berikut adalah surat lengkap Santi untuk
temannya Tommi Satryatomo yang
kemudian dipasang di blognya:
Gaza Tidak Membutuhkanmu!
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah,
180 mil dari Pantai Gaza.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal
ini berhenti bergerak karena sejumlah
alasan, terutama menanti datangnya
sebuah lagi kapal dari Irlandia dan
datangnya sejumlah anggota parlemen
beberapa negara Eropa yang akan ikut
dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza.
Kami masih menanti, masih tidak pasti,
sementara berita berbagai ancaman Israel
berseliweran.
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu
– banyak di antara kami yang membaca Al-
Quran, berzikir atau membaca. Ada yang
sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk
dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa
Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan
Mohammed dari Kuwait mengundang
seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari,
untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-
Nawawiyah secara singkat dan berjanji
bahwa para peserta akan mendapat
sertifikat.
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis –
terutama veteran perjalanan-perjalanan ke
Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada
yang petantang-petenteng memasuki
ruang media sambil menyatakan bahwa dia
"tangan kanan" seorang politisi Inggris
yang pernah menjadi motor salah satu
konvoi ke Gaza.
Activism
Ada begitu banyak activism, heroism.
Bahkan ada seorang peserta kafilah
yangmengenakan T-Shirt yang di bagian
dadanya bertuliskan "Heroes of Islam" alias
"Para Pahlawan Islam." Di sinilah terasa
sungguh betapa pentingnya menjaga
integritas niat agar selalu lurus karena Allah
ta'ala.
Yang wartawan sering merasa hebat dan
powerful karena mendapat perlakuan
khusus berupa akses komunikasi dengan
dunia luar sementara para peserta lain
tidak. Yang berposisi penting di negeri asal,
misalnya anggota parlemen atau
pengusaha, mungkin merasa diri penting
karena sumbangan material yang besar
terhadap Gaza.
Kalau dibiarkan riya akan menyelusup,
na'udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja
keras ini bukan saja akan kehilangan makna
bagaikan buih air laut yang terhempas ke
pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina
karena menjadi sumber amarah Allah
Ta'ala.
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan
kegelisahan memikirkan pekejaan menyita
kesempatan untuk duduk merenung dan
tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk
mengerem dan mengingatkan diri sendiri.
Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau
lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau
berlindung kepada Allah dari
ketidakikhlasan dan riya? Kau pernah
berada dalam situasi ketika orang
menganggapmu berharga, ucapanmu patut
didengar, hanya karena posisimu di sebuah
penerbitan? And where did that lead you?
Had that situation led you to Allah, to
Allah's blessing and pleasure, or had all
those times brought you Allah's anger and
displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia
yang kubutuhkan di sini, Subhanallah,
sungguh banyak orang yang jauh lebih
layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai
dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim
sampai seorang Muslimah muda pendiam
dan shalihah yang tidak banyak berbicara
selain sibuk membantu agar kawan-
kawannya mendapat sarapan, makan siang
dan malam pada waktunya. Dari para
ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai
beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak
bicara sibuk membersihkan bekas puntung
rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia
yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di
tempat ini juga ada orang-orang terkenal
yang petantang-petenteng karena
ketenaran mereka.
Semua berteriak, "Untuk Gaza!" namun
siapakah di antara mereka yang
teriakannya memenangkan ridha Allah?
Hanya Allah yang tahu.
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu
memperingatkan diriku bahwa Al-Quds
tidak membutuhkan aku. Gaza tidak
membutuhkan aku. Palestina tidak
membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya
membutuhkan pertolongan Allah. Gaza
hanya butuh Allah. Palestina hanya
membutuhkan Allah. Bila Allah mau,
sungguh mudah bagiNya untuk saat ini
juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil
Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh
Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku
Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini
karena kami ingin Allah memasukkan nama
kami ke dalam daftar hamba-hambaNya
yang bergerak - betapa pun sedikitnya -
menolong agamaNya. Menolong
membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudah menjeritkan slogan-
slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha.
Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara
kesamaan antara seruan lisan dengan
seruan hati.
Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu.
Namun Allah selalu punya cara terbaik
untuk mengingatkan aku.
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk
membersihkan diri sekedarnya - karena tak
mungkin mandi di tempat dengan air
terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan
bau asemnya tubuhku.
Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata
toilet jongkok yang dioperasikan dengan
sistem vacuum seperti di pesawat itu
dalam keadaan mampheeeeet karena ada
dua potongan kuning coklaaat menyumbat
lubangnya! Apa yang harus kulakukan?
Masih ada satu bilik dengan toilet yang
berfungsi, namun kalau kulakukan itu,
alangkah tak bertanggung-jawabnya aku
rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada
anak-anak bahwa apa pun yang kita
lakukan untuk membantu mereka yang fii
sabilillah akan dihitung sebagai amal fii
sabilillah, maka bukankah sekarang
waktunya aku melaksanakan apa yang
kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak
berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di
situ. Kukosongkan sebuah keranjang
sampah dan kuisi dengan air sebanyak
mungkin – sesuatu yang sebenarnya
terlarang karena semua peserta kafilah
sudah diperingatkan untuk menghemat air
- lalu kusiramkan ke toilet.
07 Juni 2010 jam 19:20 · 2 · Tidak Suka ·
Hapus · Sunting
Eka Kurniawan Atd lnjutan d atas...
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus
menggunakan tanganku sendiri
Kubungkus tanganku dengan tas plastik.
Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil
sedikit melengos dan menahan nafas,
kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.
Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot
pipa entah kemana
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai
untuk membersihkan diriku sebaik
mungkin sebelum kembali ke ruang
perempuan, namun tetap saja aku merasa
tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di
pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi
- agar aku berendah-hati, agar aku ingat
bahwa sehebat dan sepenting apa pun
tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila
kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada
artinya atau bahkan lebih hina daripada
mendorong kotoran ndableg tadi.
Allahumaj'alni minat tawwabiin
Allahumaj'alni minal mutatahirin
Allahumaj'alni min ibadikassalihin
29 Mei 2010, 22:20
Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut
dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei
2010.
07 Juni 2010 · Suka · Hapus
Vera Oktaliana Subhanallah..
11 Juni 2010 · Suka · Hapus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar